Anda adalah pengunjung yang ke :
Anda ingin membuka usaha? Usaha dagang misalnya. maka Anda harus membeli produk yang akan anda jual, menyewa atau menyiapkan tempat untuk menjual, dan mempekerjakan karyawan. Ditambah lagi, Anda harus menunggu produk Anda terjual di pasaran. Mungkin satu bulan, dua bulan, atau bahkan bertahun-tahun. Melihat kondisi ini, ada waktu yang terbuang dan Anda harus menanggung risiko yang terjadi karena tingkat inflasi tiap tahunnya.
Saat ini, ada sebuah peluang bisnis baru yang ditawarkan. Anda tidak perlu repot dengan persiapan-persiapan membuka usaha. Cukup miliki sahamnya, maka Anda bisa ikut memiliki produk yang Anda inginkan.
Blog ini menawarkan satu bentuk bisnis investasi baru, yaitu Saham Derivatif (Forex). Apa saja keuntungan dan bagaimana cara bisnisnya dapat Anda dapatkan dalam Blog ini.
Blog ini dilengkapi juga dengan cara penggunaan Streamster; sebuah software yang digunakan dalam dunia investasi….
pertukaran Valuta Asing-Valas) merupakan perdagangan mata uang kedua
negara yang nilainya berbeda dari waktu kewaktu.
Forex merupakan produk investasi yang sifatnya liquid dan bersifat
internasional. Perbedaan nilai mata uang kedua negara yang berubah dari
waku ke waktulah yang menjadi dasar diperolehnya keuntungan. Sebenarnya
keberadaan forex trading telah lama ada sejak ditemukannya teknik
mengkonversi mata uang sebuah negara ke mata uang negara lainnya. Namun,
secara kelembagaan baru ada setelah didirikannya badan arbitrase kontrak
berjangka (futures). Contohnya adalah IMM (Internasional Money
Market-didirikan tahun 1972) yang merupakan divisi bagian dari CME
(Chicago Mercantile Exchange-khusus menangani produk perishable
commodities). Contoh lainnya adalah LIFFE (London International
Financial Futures Exchange), TIFFE (Tokyo International Financial
Futures Exchange) dsb.
Perputaran uang yang terjadi pada pasar forex *mencapai US$ 5 triliun
per harinya* (survey BIS ?Bank for International Settlement? pada bulan
Setember 2008). Jumlah ini 40 x lebih besar apabila dibandingkan
perputaran uang di bursa berjangka lain seperti komoditi atau pun pasar
saham di tiap-tiap bursa efek negara maju manapun! Artinya dengan volume
perdagangan sebesar itu, pasar ini sifatnya sangat cair (liquid), dan
kendali perdagangan tidak dapat dipegang oleh hanya beberapa pihak yang
memiliki modal besar. Pergerakan mata uang ini sepenuhnya bergantung
pada pasar. Ada banyak pemain besar atau kecil di forex trading, tetapi
tidak satu pun dari mereka yang mampu mengontrol pergerakan kurs valuta
asing.
Mata uang yang kerap diperdagangkan adalah mata uang negara-negara maju
seperti Dollar Amerika (USD), Yen Jepang (JPY), Swiss Franc (CHF),
Poundsterling Inggris (GBP), Australian Dollar (AUD), dan Euro (EUR).
Semua mata uang ini diperdagangkan secara berpasang-pasangan (disebut
pair), contohnya EUR/GBP, CHF/JPY dsb.
Lalu dari mana saya memperoleh keuntungan dari investasi ini? Secara
sederhananya, keuntungan dari investasi ini diperoleh dari nilai selisih
ketika kita membeli dan menjual kembali mata uang negara yang
bersangkutan. Misalnya, pada bulan April Amir membeli mata uang Dollar
dengan nilai tukar Rp. 8500,- per Dollar sebanyak US $1000 . Maka pada
saat pembelian mata uang ini Amir mengeluarkan uang sebanyak Rp. 8500,-
x 1000 = Rp 8.500.000,- Lalu pada bulan Mei, nilai tukar Dollar menguat
terhadap Rupiah menjadi Rp. 9500,- per Dollarnya maka keuntungan bersih
yang Amir peroleh ketika dia menjual kembali Dollarnya adalah sebesar:
(9500-8500) x 1000 = Rp. 1.000.000,- Mudah dan sederhana bukan? Dan
karena memang rata-rata waktu yang diperlukan untuk membeli dan menjual
kembali mata uang yang bersangkutan biasanya tidak lebih dari satu
bulan, maka forex trading digolongkan sebagai investasi dengan jangka
waktu singkat.
Mungkin akan timbul pertanyaan demikian dari Anda: ?Kalau begitu apa
bedanya forex trading dengan jual beli di money changer?? Ada beberapa
perbedaan mencolok antara perdagangan forex dengan money changer. Selain
pasangan yang diperdagangkan adalah mata uang asing satu dengan mata
uang asing lainnya (pada money changer biasanya dipadankan dengan
Rupiah), forex trading tidak melibatkan perdagangan secara fisik. Dan
yang lebih penting lagi karena tidak melibatkan perdagangan secara
fisik, forex trading dapat dijalankan dengan sistem margin atau jaminan
(margin trading).
Contohnya bila saya menginginkan membeli US$10.000, maka dengan sistem
margin trading saya cukup mengeluarkan dana 1% nya saja yaitu sebesar
US$100 sebagai jaminan. Namun keuntungan yang saya peroleh dari
apresiasi (kenaikan) Dollar AS adalah sama nilainya dengan US$10.000
yang saya beli. Sangat sederhana dan karena memang tidak melibatkan
perdagangan dalam bentuk fisik (investor tidak memegang mata uang yang
dibeli atau dijual, hanya bukti transaksinya saja), maka jaminan yang
diberikan dapat sangat kecil yaitu hanya 1% dari jumlah yang hendak dibeli.
Masih ada banyak aspek dalam dunia forex. Artikel singkat ini hanyalah
menjelaskan secara singkat pengertian dari forex trading. Anda
dipersilakan melanjutkan pada artikel selanjutnya dari website ini.
Sejarah Singkat Munculnya Foreign Exchange Market
The Gold Exchange dan perjanjian Bretton Woods
Menjelang akhir era 1960-an, Bank Chicago pernah menolak permohonan pinjaman seorang Professor universitas berupa sejumlah mata uang Inggris. Ia menganggap bahwa nilai currency tersebut sudah terlalu tinggi dibanding Dollar Amerika, sehingga ia bermaksud untuk menjualnya di pasar.
Rencananya pada saat nilai Poundsterling tersebut mulai melemah dibanding Dollar Amerika ia akan melakukan pembelian kembali dan membayar hutangnya kepada Bank, dan kemudian mengantongi keuntungan yang tersisa.
Penolakan bank Chicago tersebut dikarenakan adanya perjanjian Bretton Woods yang telah disepakati 20 tahun sebelumnya.
Perjanjian Bretton Woods dirumuskan pada tahun 1944 bertujuan untuk mendirikan stabilitas moneter internasional dan mencegah kaburnya arus dana keluar negeri, disamping tetap memberi sikap tegas terhadap spekulan mata uang.
Prioritas utama perjanjian ini adalah untuk mengatasi dominasi pertukaran emas terhadap perekonomian dunia. Pada masa pertukaran emas, mata uang mengalami beberapa tahap stabilitas, dan dalam prosesnya telah menghapus peraturan lama yang memungkinkan raja atau pembuat peraturan mencetak dan memperbanyak mata uang secara semena-mena yang akhirnya menimbulkan tekanan inflasi yang tinggi.
Tetapi sistim pertukaran emas tidak kekurangan kelemahan, ketika pertumbuhan ekonomi mulai menguat, terjadi impor emas dalam skala besar dari negara lain, yang membuat arus uang yang keluar sangat besar dan menyebabkan peredaran uang di dalam negeri menjadi sangat sedikit. Hal tersebut memicu kenaikan suku bunga dan memperlambat aktivitas ekonomi yang mendorong negara ke dalam resesi.
Akhirnya, harga barang menjadi sangat rendah dan menimbulkan arus pembelian yang sangat besar dari negara lain, yang kemudian menciptakan cadangan emas baru, hal tersebut akan terus berlanjut sampai mampu menyuplai cukup uang didalam negeri dan mendorong perekonomian tumbuh kembali.
Setelah Perang Dunia I, perjanjian Bretton Woods ditemukan, dimana negara partisipan setuju untuk memelihara dan menentukan nilai mata uang mereka sendiri dibanding Dollar.
Negara-negara dilarang mendevaluasi mata uang untuk keuntungan perdagangan mereka, pendevaluasian hanya disetujui jika kurang dari 10%.
Namun dalam tahun 1950 terjadi ledakan arus modal yang didorong oleh kebutuhan pengembangan pasca perang dunia. Hal tersebut mendorong tidak stabilnya mata uang sebagaimana yang telah disepakati di dalam perjanjian Bretton Woods.
Perjanjian tersebut akhirnya ditinggalkan pada tahun 1971, dan Dollar Amerika tidak pantas lagi disetarakan dengan emas. Pada tahun 1973, mata uang negara-negara industri menjadi semakin mengambang (Floating), yang kendali utamanya dipegang oleh kekuatan penawaran dan permintaan yang terjadi di Foreign Exchange Market. Pasar terus mengambang dengan volume dan fluktuasi yang tinggi sejak era 1970-an, dan memberikan kesempatan munculnya instumen baru dalam pasar uang, deregulasi pasar dan liberalisasi perdagangan.
Pada tahun 1980-an penyebrangan arus modal bertambah cepat dengan adanya peningkatan komputerisasi dan teknologi, hingga menerobos benua Asia, Eropa dan Amerika. Transaksi perdagangan meningkat pesat dari $ 70 billion dalam satu hari pada tahun 1980-an menjadi $ 1,5 trillion/ hari dalam dua dekade berikutnya.
Ledakan pada pasar Eropa
Katalisator utama terhadap percepatan Foreign Exchange trading adalah tumbuh pesatnya eurodollar market, dimana US Dollar sangat banyak didepositokan di luar negeri.
Ledakan tersebut dimulai tahun 1950-an ketika semua pendapatan hasil penjualan minyak Rusia dalam bentuk Dollar dan didepositikan diluar Amerika Serikat karena adanya ketakutan dana tersebut akan dibekukan oleh pemerintah Amerika. Hal tersebut menimbulkan kenaikan jumlah Dollar yang beredar dinegara lain diluar pengawasan Amerika.
Dilain pihak Euromarket, jauh lebih menarik dibanding pasar Amerika, dengan peraturan yang lebih lunak dan mampu menawarkan hasil yang lebih tinggi. Sehingga pada akhir tahun 1980-an perusahaan-perusahaan Amerika mulai mengambil pinjaman dari luar negaranya, dan menemukan Euromarket sebagai pasar paling liquid, yang menyediakan pinjaman jangka pendek untuk membiayai aktifitas ekspor dan impor.
Pada saat itu London masih tetap menjadi pasar utama dunia, dan pada tahun1980, ia juga menjadi pusat pasar bagi eurodollar, proses tersebut berkembang ketika bank Inggris mulai meminjamkan dollarnya sebagai alternatif terhadap Pound agar dapat mempertahankan posisi mereka sebagai pemimpin di pasar keuangan global. Lokasi geografis yang strategis di London (beroperasi antara pasar Asia dan Amerika) juga menjadi instrumen pendukung untuk mendominasi Euromarket.
A lot of benefit you can get in MARKETIVA



